Posted by: qastalany | Nopember 30, 2007

kenapa Harus ada Internet…??

Oh internet..
Kau telah merebut manisnya ibadahku dengan-Nya
Kau telah merebut jiwa sosialku dari milieu-ku
Kau telah merebut sedekah senyum saudaraku

Oh internet..
Kau telah merebut keseriusanku dalam menghafal Kitab-Nya
Kau telah merebut ratusan bahkan ribuan hadith dari hafalanku
Kau telah merebut diamnya diriku dari khusu’nya bertafakkur

Oh internet..
Kau telah merusak lezatnya ruhku dalam melantunkan ayat-ayat-Nya
Kau telah merusak fikiran jernih anak-anak desa
Kau telah merusak tanganku dari lezatnya berkarya dan menolong orang

Sekarang aku ingin tanya kepadamu wahai interne..!
Bisakah kau gantikan diriku, dari wajibnya menjenguk orang sakit, dengan emailmu..? downloadmu? Atau bahkan streamingmu..??

Bisakah kau gantikan diriku, dari wajibnya bersilaturahmi, dengan blogmu, websitemu yang tak dimengerti orang awam bahkan para dhu’afa itu… bisa kah?

Seandainya para perawi hadith zama dahulu, tidak mau pergi berlelah-lelah menempuh beribu kilometer jauhnya demi mendapatkan satu hadith, namun hanya meriwayatkan hadith lewat download. Niscaya orang kafir atau bahkan anak umur 6tahun pun bisa melakukannya..

Dirimu yang canggih itu, takkan bisa menyejukkan hatiku atau menghilangkan dahagaku dari belajar dan membaca kitab. Yang ada malah menambah minus mata, dikarenakan sengatan cahaya dari layarmu, dirimu yang canggih itu masih banyak mengandung mudhorot daripada faidahnya.

Wahai internet, kau telah merebut segalanya dari diriku dan ummat manusia lainnya, mulai dari sia-sianya waktuku sampai habisnya duitku…
Kau telah merusak cara berfikir dan gaya hidup manusia modern…
Gara-gara dirimu juga, aku jadi cekcok dengan orang yang sangat kusayangi, tanpa sebab yang jelas….

By; al-faqir-ila-‘auni robbihi Adam Bakhtiar
Ditulis; menjelang sholat jum’at jam 01.06.pm. di hostel 4.

faktanya, silahkan baca berita-berita dibawah ini ;

Senin, 03/12/2007 09:17 WIB

Kecanduan Internet Bisa Berujung Depresi

Fransiska Ari Wahyu - detikinet

ilustrasi (qj.net)

Jakarta - Apakah ketika terbangun di pagi hari Anda langsung menyalakan komputer untuk mengakses internet atau tiba-tiba di tengah malam Anda sering terobsesi untuk mengecek e-mail? Jika iya, mungkin Anda perlu berhati-hati, karena bisa jadi Anda sudah termasuk pecandu internet.

Setidaknya begitulah hasil riset dari sekelompok para peneliti dunia terkait penyimpangan yang terjadi pada pecandu internet. Menurut riset yang menganalisis sampel berusia 16 hingga 60 tahun tersebut, jika para pecandu ini tidak bisa melampiaskan hasrat mereka untuk online maka dikhawatirkan orang tersebut bisa menjadi depresi.

“Pecandu internet tidak hanya menyatakan pada suatu keinginan, tetapi lebih daripada itu. Ini sudah termasuk permohonan yang mendalam. Mereka (pecandu internet-red.) sudah seperti para pecandu kopi atau mereka yang kecanduan berbicara via ponsel,” ujar Dr Pinhas Dannon dari Universitas Tel Aviv sekaligus pemimpin riset ini.

Para pecandu internet, dikatakan Dr Dannon, selanjutnya bisa mengalami masalah kekurangan waktu tidur, gelisa ketika tidak bisa online, terisolasi dari keluarga dan kelompoknya, kehilangan pekerjaan hingga yang paling parah mengalami depresi yang mendalam.

Seperti dikutip detikINET dari Hindu News, Senin (3/12/2007), kelompok riset ini juga menyimpulkan bahwa mereka yang rentan terjebak kecanduan internet adalah mereka yang merasa kesepian.

“Namun kami juga ingin menyampaikan bahwa kita perlu melihat para pecandu internet dengan beberapa tipe. Dan jika kita tidak mengubah cara kita menggolongkan mereka, maka kita tidak akan bisa memperlakukan mereka dengan cara yang tepat,” tandas Dr Dannon. ( dwn / dwn )

Minggu, 02/12/2007 12:17 WIB

Meski Bahaya, Pengguna Internet Tetap Buka Diri

Fransiska Ari Wahyu - detikinet

Ilustrasi (Ist.)

Australia - Banyak orang yang lebih merasa nyaman serta percaya diri ketika sedang berpetualang di dunia maya. Mereka pun bisa lebih terbuka dalam mengungkapkan identitas. Namun mereka tidak sadar bahwa mengungkapkan data pribadi secara detail bisa berbahaya bagi diri sendiri.

Hal ini terungkap dari survei yang digelar perusahaan sekuriti Symantech terhadap sejumlah warga Australia. Menurut riset tersebut, sebanyak 2/3 responden mengaku lebih suka berbagi informasi dengan orang lain di internet daripada di dunia nyata. Status anonim (tidak dikenal) di internet menjadi alasan kenyamanan tersebut. Alhasil, mereka pun bisa lebih terbuka menunjukkan identitas diri.

ITWire yang dikutip detikINET, Minggu (2/12/2007) melansir, sejumlah 63 persen responden mengaku menggunakan nama asli di dunia maya dan sepertiganya juga mencantumkan alamat rumah mereka, sedangkan 29 persen responden bahkan menyebutkan detail rekening bank dan nomor kartu kredit mereka.

Melihat kondisi demikian, peluang-peluang terjadinya kejahatan cyber pastinya terbuka lebar. Sebab, data-data tersebut merupakan informasi sensitif yang bisa disalahgunakan para penjahat cyber untuk merugikan pemilik aslinya.

Ironisnya, 66 persen responden percaya bahwa banyak orang tidak terlalu memikirkan konsekuensi mem-posting informasi pribadi mereka di internet. Padahal jelas-jelas hal ini bisa mengundang resiko terjadinya kejahatan di dunia maya.

Sebanyak 17 persen responden beralasan bahwa profil mereka di dunia maya lebih merupakan cerminan tentang ‘ingin menjadi seperti apa mereka’ ketimbang tentang ’siapa mereka sebenarnya’.

Jumat, 30/11/2007 11:46 WIB

Pornografi Internet Merajalela, Remaja Makin Agresif

Fino Yurio Kristo - detikinet

ilustrasi (inet)

Pennsylvania - Melalui internet, pornografi makin merajalela dan bisa diakses kapan saja. Demikian pula dengan adanya media ponsel atau laptop yang bisa menyimpan konten pornografi dalam jumlah besar.

Industri porno seperti inipun merasuki kalangan anak muda seperti di dunia perguruan tinggi (college). Dalam pencarian melalui Google misalnya, ditemukan jutaan item untuk daftar pencarian dengan kata kunci ‘college porn’.

Berbagai efek berbahaya pun mengemuka bagi mereka yang kecanduan pornografi ini. Para ahli mengungkapkan, melihat hal porno secara rutin bisa mendorong orang punya gaya hidup seksual agresif yang berbahaya dan juga kepercayaan yang tak sehat.

Mary Anne Layden dari Sexual Trauma and Psychopathology Program di University of Pennsylvania menandaskan pornografi bisa membuat orang punya persepsi kepercayaan seksual yang salah. Kepercayaan ini seperti bahwa pornografi merupakan hal yang normal saja, tak melukai siapapun dan bahwa semua orang juga melakukannya.

Ujung-ujungnya menurut Mary, para pecandu ini menganggap bahwa seksualitas adalah layaknya barang yang bisa diperdagangkan dan bahwa tubuh wanita hanyalah semacam hiburan seksual bagi lelaki. Hal ini bisa membuat kaum muda melakukan aktivitas seksual berbahaya, bahkan pemerkosaan.

Di lain pihak, Craig Gross, pastur yang mendirikan situs untuk menolong pecandu pornografi di XXXchurch.com menandaskan bahwa pornografi telah menjadi masalah anak muda. “Seks yang sesungguhnya tak sama dengan yang Anda lihat di adegan porno,” ungkapnya seperti dikutip detikINET dari TheLantern, Jumat (30/11/2007).

Leave a response

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.

Kategori